Sabtu, 15 Januari 2011

the next of my novel.. I need the prayers of you for the success of this novel :)

*Rifky Ramadhan

Aku tak mengerti apa itu cinta, yang ku tahu, cinta adalah dimana perasaan kita menyatu menjadi sebuah perasaan yg indah, yang terukir indah dalam jari pena tak terduga, melahirkan kata-kata tersirat yang dirangkai dengan sepenuh hati. Cinta adalah perasaan yang seolah-olah berubah menjadi remot yang mengendalikan diri kita seakan-akan menjadi bodoh. Dan bagaimana menurutmu?
Aku cenderung tidak mengerti apa sebenarnya perasaanku dengan Monda, hanya saja, aku sangat lengah untuk memerhatikannya. Aku rasa, Monda sudah sangat cukup menjajah hatiku. Dia berhasil merombak habis lahan di hatiku. Aku sangat menyayanginya, hanya saja aku yang masih sangat dingin.
Cinta memang butuh pengorbanan yang dahsyat. Aku pun merasakannya. Aku sulit untuk menyayangi seorang wanita, ketika Monda muncul di kehidupanku dan meminta agar aku menjadi bagian hidupnya secara tak langsung, seketika hidupku berubah. Aku yang jadi sangat sering memikirkannya, aku yang lemah jika dia tak ada, aku yang hanya bisa menggantungkan semangatku kepadanya, hingga suatu hari Monda nekad mengutarakan perasaannya kepadaku. Saat itu aku kaget bukan main, aku pun berdecak kagum karena tampangnya yang masih polos dan berkata itu padaku ketika di pinggir lapangan 3 tahun silam. Waktu itu kami masih duduk dikelas 6 SD, dimana kami masih sangat dini untuk memikirkan hal-hal itu. Sesungguhnya aku sangat senang bukan main ketika dia mengucapkan itu padaku. Namun, aku ingin tahu kesungguhan dia sehingga aku bersifat dingin dan acuh terhadapnya. Aku melihat tatapan kecewa yang tersirat di bola matanya yang indah. Aku sempat menyesal dan rasanya ingin memutar waktu itu kembali. Tak banyak wanita yang berani mengutarakan perasaannya kepada lelaki. Namun, aku tetap teguh pada pendirianku dan yakin bahwa ia sungguh mencintaiku.
Beberapa minggu, Monda menjauh dariku, ia merasa sedikit gugup. Setiap kali aku menatap matanya, dia selalu mengalihkan. Aku sedikit kecewa, ternyata tidak seperti yang aku bayangkan kalau Monda akan seperti itu padaku. Aku pun mendekatinya dan memancing dia agar aku bisa mendapatkan bukti cukup bahwa dia benar-benar menyayangiku. Rencanaku saat itu tidak berhasil. Komunikasi kami terputus hingga setahun dan dilanjutkan ketika kami kelas 2 smp, saat itu tiba-tiba Monda menghubungiku lewat via sms, ya.. bagaimananya tentu kalian tahu karena Monda sudah menceritakan.
Hingga akhirnya kami menjalin hubungan. Cukup lama hubungan kami berjalan hingga kerap 9 bulan dan berakhir sangat menyedihkan. Entah, apa aku tak ingin di salahkan atau bagaimana, tapi menurutku, aku tak salah! Mungkin kalian sependapat dengan Monda dan menyalahkanku seperti di tulisannya. Tapi, aku berpendirian keras dan aku hanya ingin kebahagiaan dia kelak. Aku meninggalkannya bukan berarti karena aku telah bosan dengannya. Hanya saja aku yang merasa benci dengan semua masalah yang menimpa hubungan kami secara bertubi-tubi. Dia yang selalu merasa ingin di manja, padahal aku yang bingung bagaimana cara memanjakannya, setiap kami ingin bertemu, selalu saja ada halangan dan itu sangat membuatku jengkel. Padahal, aku sangat merindukannya saat itu. Aku merasa rendah dan sama sekali belum bisa memberi yang terbaik untuknya. Yasudahlah.. aku tinggalkan dia walau sebenarnya aku sudah banyak mengucapkan janji-janji yang membuatnya semakin benci denganku. Hari pertama ketika kami telah benar-benar berpisah dan tidak ada yang memulai sms satu sama lain, aku terus memikirkannya. Namun, aku tetap berusaha tegar dan menjalani semua. Aku ini egois! Ya. Aku merasa sangat egois.. tapi aku sama sekali tidak merasa bersalah. Yaaa memang aku tidak bersalah! Beginilah aku. Kalau memang Monda tidak cocok dengan kekuranganku, yasudah! Bukan masalah buatku. Hanya saja aku masih sangat mencintainya -,-
^-^
Hey, aku tetap bertugas sebagai narasi di bagian kedua ini.. dan aku netral tentunya. Haha

Oke, saat ini Rifky sudah mulai bisa melupakan Monda secara perlahan. Sebenarnya Rifky masih mengharapkan Monda untuk menghubunginya.

Hari ketiga MOS, Rifky sebagai kakak osis menjalankan tugasnya. Perlahan ia melunturkan angan tentang Monda walau sebenarnya Rifky masih menyayangi Monda.
“kakak, ini kak Rifky yaah? Yang jadi pocong di samping kuburan kemaren! Iya kaan?” seorang adik kelas mengirim sms kepada Rifky setelah resmi berakhirnya acara MOS tahun ini di sekolahnya.
“Iya, ini siapa ya?” jawab Rifky singkat karena ia buru-buru ingin mandi.
Handphone tak segera di lihat, namun sms dari adik kelas tersebut sudah datang dan membuat Rifky ingin buru-buru melihat balasannya.

“iyaa? Halloo?” Rifky mengangkat telfon.
“kak Rifky yaah? Kak Rifky yaaaaaaaaaaah?” suara dengan nada tinggi terdengar di seberang sana. Terdengar seperti ada dua tiga orang di dalam telfon tersebut.
“I, iya.. ini siapa sih?” Rifky kebingungan.
“ini aku kaaak.. yang kemaren kakak tolongin pas aku naaaaangis..”
“nangis?”
“iya”
“kenapa nangis?”
“kan kakak takutin”
“iya yah?”
“iyaaa tau kaaak.. iih kakak baaik deh.. makasih ya kakak..”
“iya dek”
Freak banget coba -,- gue emang suka sama cewek agresif.. tapi gak gini-gini bangeet -,-!!!
“kakak.. kakak suka sama siaaapa?”
“aduh dek, ada berapa orang di seberang sana?”
Saking ramenya, sampe-sampe suara gue ga kedengeran coba -,-!!
“kakak, pacar kakak siapaa?”
“aduh.. adik-adiik.. kakak keberisikaaan…” suara Rifky meninggi.
“eh eh sut sut jangan pada berisik apa” seketika suara di seberang sana terhenti menjadi sunyi.
Glek, dasar anak-anak freak -,-. Saat itu juga gue kangen Monda -,-!! Memang hanya dia yang sayang sama gue tulus. Aargh
“kakak, pertanyaan kita belum di jawab”, kali ini perwakilan dari mereka yang berbicara.
“pertanyaan apa?”
“yang tadi.. kakak suka siapa?”
“hah? Gak ada.”
“beneran kak? Emang kakak gak punya pacar?”
“nggak. Kenapa?” jujur saja, saat itu senyum ‘GR’ Rifky terpancar seketika. Namun ia tetap bersikap dingin.
“gak papa kaak.. oh iya, kak, aku Putri anak 7a”
“hah? Iyaiya, oh iya udah dulu ya. Smsan aja.”
“haaah? Kakak mau smsan? Yaudah yaudah.. dada kaakak”
Fiuh.. yaaa gapapa sih. Kayaknya ini fans gue :D

Seminggu berturut-turut setelah berakhirnya hubungan Monda dan Rifky, setiap pulang sekolah Rifky buru-buru lari ke dalam kamar dan menengok handphonenya berharap ada sms dari Monda. Ia sempat senang karena ternyata di hari kedua setelah putusnya hubungan mereka, sms dari Monda pun datang, namun lagi-lagi ia berusaha tetap bersikap dingin.
Hari ketiga tak kunjung sms dari Monda datang, Rifky cukup memikirkan. Tapi ia berusaha mengabaikan, bahkan ia berpikiran apa dia yang akan menghubunginya duluan, namun lagi-lagi prinsip Rifky hanyalah berusaha bersikap dingin dan cuek.

Hari keempat sms Monda datang, Rifky senang bukan main. Satu hal yang membuatnya bodoh adalah, jawaban Rifky yang singkat. Setiap setelah ia memberi jawaban singkatnya tentu Monda tidak menjawabnya lagi. Dan setelah itu Rifky merasa menyesal. Seminggu berlalu.. dan hingga akhirnya Monda tidak menghubungi Rifky lagi. Cukup membuat Rifky galau dan sedikit merindukan Monda.
Kalian tau apa yang gue fikirkan saat itu? Penyesalan? Tentu. Merasa kehilangan? Oh itu tentu. Gue merasa bodoh sedunia karena meninggalkan seorang wanita yang begitu sayang sama gue. Tapi gue konsisten, gue harus tetap dingin. Karena itu memang prinsip gue.
^-^
“sob, jalan yuk. Ada film baru, tadi gue liat trailernya. Pada bales ye, gue butuh jawaban.” Sms datang ketika Rifky masih asik-asiknya menikmati mimpi Minggu pagi ini.
“bangun ky.. udah pagi.. mama ada acara ya, kamu jagain adik kamu, oke?” Mama membangunkan Rifky.
Rifky segera beranjak. “hah? Mama pergi?”
“iya, sebentar aja kok sampe jam setengah sebelasan”
“oh yaudah deh. Renad dimana?”
“dibawah.”
“rara?”
“iya di bawah juga. Jagain mereka yah”
“iyaiya” jawab Rifky sambil menguap.
“haaaaaaaaaah, jagain adek mulu dah” Rifky mencari handphone nya dan membaca sms dari temannya tersebut.
“jam berapa sob?” balasnya. Lalu ia turun ke lantai dasar dan menemui para adik-adiknya.

Memang, keluarga Rifky tidak memiliki pembantu rumah tangga karena mama Rifky yang berfikir bahwa semua dapat di lampaui dengan sendirinya, konon katanya, sekaligus melatih Rifky agar bisa hidup mandiri.
“udah makan Ra? Makan gih” adik Rifky yang bernama Rara itu duduk dikelas 3 SD, sedangkan Renad berumur 5 tahun.
“iya kak..”
“udah buruan, Renad mana?”
“masih tidur di kamar mama”
“oh yaudah, makan ya dek. Abis itu mandi. Mama pesen apa lagi buat kakak?”
“beresin rumah lah kak..”
“oh yaudah. Makan sana.”
“iya kaak..” Untung saja adik-adik Rifky tak banyak bertingkah. Mereka menuruti semua apa yang Rifky katakan.

“habis zhuhur sob, ikut kaga lu?” sms itu terbalas lagi.
“iye gue ngikut, siapa aja yang ikut?” balasnya.
“ada Badr, Yasser, Gibran, Farrel, Izzat, sama lo palingan. Oke deh bos, abis zhuhur yaaaaah”
“ok”
^-^
"maaa.. aku jalan yah?” izin Rifky kepada Mama.
“rapih amat.. ketemu Monda ya?” ledek Mama melihat penampilan Rifky dari atas ke bawah.
“iiih nggak, ma.. itu.. temen aku ngajak nonton.. katanya ada film bagus.. dia baru liat trailernya, boleh ya ma?”
“iyaiya, mau pulang jam berapa?”
“gak tau, sore kali.”
“hape aktif ya.. jangan di matiin”
“iya ma, Rifky berangkat dulu”
“yoo..”

Memiliki tempat kenangan yang mengesankan dengan Monda itu sudah pasti. Bahkan, banyak sekali tempat-tempat itu. Dan lo tau? Gue ketemu Monda hari ini. Itu ngebuat gue shock berat. Monda tambah cantik -,- aaah.

“mampos gan, ada Monda.” Rifky memasang tampang so dinginnya.
“hey Monda ya? Inget gue ga?” sapa Farrel.
“aah, oneng malah di sapa” Rifky mencubit lengan Farrel.
“eh, rel.. apa kabar?” wajah Monda mulai terlihat pucat. Farrel mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
“eh hem, rame-rame nih? Mau ngapain?” Monda berusaha santai.
“mau nonton.. ky, ada Monda juga! Sapa dong” Yasser menegur Rifky.
“eh iya, gue sama temen-temen gue nih lagi misah. Takut mereka nungguin. Gue tinggal ya? Next time lagi aja, ok? Bye.” Monda Nampak terburu-buru.

Yayaya. Bodohnya gue kenapa sebodoh ini yah? -,- kenapa ga tadi gue ajak ngobrol, terus basa-basi kek, atau apa gitu. Aaaaaah. Udahlah, semua ini udah berakhir. Mau di apain lagi? Mungkin aja, gue bisa ketemu sama dia suatu saat.

“gaya banget lu ky.. sombong abis sama mantan. Jangan gitu-gitu banget ky.. hukum karma berlaku sama siapa aja..” Farrel mencibir.
“ah udah ah, mood gue ilang nih.. udah yuk, udah mulai kali filmnya.”
^-^
Sebulan sudah gue berpisah sama Monda. Aaaa gue kangen. Tapi kenapa sama sekali sms Monda gak dateng? Apa bener Monda gak akan hubungin gue lagi? Huaaah gue gak mau gini.. Jujur aja, gue kehilangan Monda. Tidaaaaak gue nyesel sekarang >,<

Owkay ternyata tak seburuk yang Monda fikir. Rifky pun ternyata masih memikirkannya. Nice news nih! Monda harus tau.. hahaha

Gue ngaku, gue itu gak gentle! Monda aja bilang gitu, tapi gue yakin temen-temen gue gak nganggep gue gitu karena gue rasa, gentle itu gak penting. yang paling penting dalam suatu hubungan hanya kasih sayang dan perasaan yang tulus. Apa kalian juga berpendapat seperti gue? Ah, gue rasa mayoritas yang baca tulisan ini para cewek sehingga kontra dengan pendapat gue. Oke sip gue kalah. Tapi gue punya alasan kenapa gue berpendapat seperti itu! Karena di benak gue kalo orang bilang ‘gentle’ yang langsung terlintas muka justin bieber yang kayak bencong. Banyak para wanita yang berpendapat kalo justin bieber gentle abis. Semenjak itu lama-lama gue langsung ngecap kalo cowok gentle itu ya modelnya kayak bencong gitu. Soalnya di benak gue justin bieber itu bencong.
Pasti kalian ada yang berfikir apa karena gue iri ama justin bieber makanya gue bilang gitu. Okelah gue ngaku, jujur aja gue pernah jealous gitu sama JB yang kalo Monda lagi ngapa-ngapain pasti ujung-ujungnya Justin Bieber yang diomongin. Apa coba, jadinya gue nyari temen-temen gue yang kontra juga sama justin bieber dan kebanyakan diantara mereka beralasan kenapa benci sama JB karena mukanya yang bencong abis. So, gue pro banget sama orang-orang yang benci sama justin bieber. Dan gue rasa sifat mutlak cowok itu gak harus gentle. Tapi Monda pernah bilang justru sifat dan sikap gentle wajib di miliki setiap lelaki. Ah, gue gak setuju. *mudah-mudahan aja yang baca ini tulisan salah satunya aja deh ada yang benci banget sama JB. Kalo ada, lo boleh deh minta tanda tangan gue. haha
Kata Monda juga, gue itu cowok mahal yang sok-sok dingin gitu di depan cewek, ya emang gue gitu sih, mau di apain lagi -,- okelah gue ngaku gue itu banyak kekurangannya. Tapi sih, gue nyaman aja ah sama diri gue yang cool. Buktinya aja adek kelas banyak yang deket sama gue. Baru gue bilang suka dikit aja langsung berharap banyak. Mereka terlalu make perasaan -,- gue sih sempet gak tega gitu ngebiarin para adek kelas yang sering banget berantem karena gue dan curhatnya sama Monda. Gue tau kok, ternyata gue baru sadar kalo gue masih aja ngintilin Monda. Jujur aja, semenjak gue putus cinta dan lepas perasaan sama Monda, hati gue jadi gak setia gitu gak kayak waktu gue sama Monda yang hati gue satu cuma buat dia. Tapi semenjak gue udah gak sama Monda, gue jadi gak teratur gitu ngebagi cinta gue. Gue jadi gak jelas sebenernya gue suka sama siapa, gue jadi kayak playboy perasaan gitu yang gak cuma suka sama satu orang.
Suatu hari, gue pernah nitip perasaan gue lewat adek-adekan gue di sekolah buat sahabatnya, gila, sahabatnya itu langsung salting abis di depan gue. Tapi setelah itu gue mikir, itu baru aja lewat perantara, gimana kalo gue langsung yang ngomong yah, gak perlu nyiapin nyali lagi buat ngomong atau nelfon yang bersifat secara langsung, lewat sms juga bisa.
Eh gak lama gue denger adek-adekan gue itu sama sahabatnya lagi marahan gitu, ehm kebetulan kan gue megang passwordnya Monda, gue akhirnya niat buka fb Monda suatu hari, eh ternyata Monda belom ganti password. Cepet-cepet lah gue buka inboxnya. Yang di situ isinya ternyata ada yang massage-an sama adek-adekan gue itu. Tapi, ada satu yang seketika buat gue langsung shock. Oh Tuhaan, si Monda ternyata udah punya cowok -,- ternyata cowok yang namanya Geraldo Himawan itu beneran cowoknya dia, hmm gue kira cuma temen deket apa kek gitu. Yang gue kaget di dalem inbox itu mereka punya panggilan khusus yang gue tau apa itu artinya. Gue jadi gak fokus, tapi gue cepet-cepet nyelesein tujuan utama gue buka fb Monda, kesimpulan yang gue ambil, adek-adean gue sama sahabatnya itu berantem karena gue. Ternyata adek-adekan gue, juga suka sama gue. Huhft, wanita itu terlalu make perasaan yah, kan fatal kalo ampe mereka patah hati dan harapan mereka gak kecapai. Gue saranin aja deh buat para wanita. Kalo nemu cowok macem gue jangan langsung naro harapan lebih. Kalo gue cenderung yang gak mau langsung serius sama orang.. yaaa buat have fun aja. Gak tau nih gue jadi berubah semenjak pisah sama Monda. Oh iya, kalian tau kan tentang si Putri Ubaydillah adek kelas gue itu? Jujur aja deh gue suka sama dia, tapi ada satu yang buat gue ngeganjel sama sifat dia yang terlalu ke’pede’an. Yaiks, gue langsung ilang feeling sama dia kalo lama-lama deket.
Oh ya, lanjut ke Geraldo itu, pas tu inbox gue baca dan akhirnya gue ambil kesimpulan kalo mereka udah jadian, gue langsung buka Fb Geraldo itu. Wew, hometownnya di Netherland. Weh, dari muka-mukanya keren, ganteng laaah. Hmm kayaknya Monda lebih bahagia. Kenapa gue jadi sakit hati gini yah-,- yaelah, lembek amat si lu Rif, banyak lowongan kali, di sekeliling lo kan banyak cewek.

Guys, udah dua bulanan nih gue gak kontakan sama sekali sama Monda. Jujur sumpah, gue udah gak ada perasaan lagi sama Monda. Rasa sayang gue juga udah ilang tau kemana.
Akhir-akhir ini gue lagi ngerencanain sesuatu nih, gue mau nembak adek kelas gue, namanya Zaskia Azalea yaaa sahabat adek-adekan gue itu. tujuannya cuma mau ilangin bener-bener Monda di kepala dan kehidupan gue biar gak keinget. Tapi guys, hati kecil gue bilang kalo jangan gitu. Kadang seketika, pas gue lagi ngerencanain mateng-mateng kapan gue nembak, langsung terlintas janji-janji yang pernah gue ungkapin ke Monda. Sialan banget kan-,- gue inget sama janji gue yang bakal balik pas SMA. Ah, tapi ngapain juga gue nepatin itu janji, toh Monda juga udah ngingkarin janji dia yang gak akan pacaran lagi selain sama gue. Eh tapi kan, kenapa gue masih aja mikirin Monda yah kalo gue lagi bengong? gue aja masih suka make jaket yang di kasih Monda waktu itu. Kadang gue juga suka meratapi kalung hati yang terbagi dua yang waktu itu gue kasih sama Monda waktu pertemuan pertama. Hati kecil gue suka bilang kalo ini kalung bakal ketemu pasangannya suatu hari. Terus diri gue yang lain bilang, kalo gue harus nepatin janji gue sama Monda karena banyak janji-janji yang terucap dari mulut gue dan hampir semua juga gue ingkarin. Tapi kan, Monda juga ingkarin janji dia yang sangat gue percaya kalo dia gak akan ngingkarin. Hmm ya, gue kalah lagi deh, Monda hanya mengingkari janji itu saja. Sedangkan gue? Hampir semua janji gue ingkarin. Yaa satu-satunya janji yang bisa gue buktiin sama Monda kalo gue bisa nepatin cuma janji gue yang bakal dateng lagi pas SMA. Gimana yah, jujur aja sih gue itu udah gak ada perasaan sama sekali sama Monda, tapi hati kecil gue bilang kalo cuma Monda yang terbaik.
^-^
#Lewat facebook
Lamonda Anastasia 08 October at 23:39
hey, aku add kamu lagi yaah.. gak papa kan?

Rifky Ramadhan 09 October at 06:28 Report
Iyiy. Gpp lah.
Ko tumben ng-add lg? Knp?
Sent via Facebook Mobile

Lamonda Anastasia 09 October at 18:45
gak papa.. kemaren penyuluhan anak'' aqal mau add''in semua.. gak taunya kamu doang yg belom wehehe makasih ya

Rifky Ramadhan 09 October at 20:38 Report
o,, gtu

awalnya gue kaget plus seneng karena Monda masih mau hubungin gue, gue tau kok, alasan dia nge-add gue lagi itu cuma akal-akalan dia. Yaaa secara gak langsung gue pede dong karena pasti Monda takut kalo dia kehilangan jejak gue. Makanya dia nge-add gue lagi.

Ternyata Rifky maruk juga yah. Ngomong mulu perasaan-,- yaudah deh, kita intip Monda aja, bertepatan dengan itu Monda lagi ngapain yaah?
^-^

Rabu, 12 Januari 2011

kutipan novel gue, minta doa yaa :)

***Lamonda Anastasia
Udah dua Bulan hubungan gue sama Gerald berjalan. Dan gue belum nemuin masalah berat yang harus di hadapi sama gue dan Gerald. Mungkin karena masih mudanya usia hubungan kami. Banyak orangtua yang bilang, “cinta remaja SMP itu cinta monyet” gue sih percaya aja, karena emang usia kita yang masih sangat dini. Setiap kali gue menjalin hubungan sama orang yang gue sayang, selalu ada kendala besar seakan-akan batu yang sangat besar menghalangi dan merayapi perasaan tidak tenang gue. Ya. Mama dan Papa. Detik ini, saat ini ketika gue nulis tulisan ini, gue lagi benci banget sama mama papa dan diri gue yang kata papa, “TOLOL”. Ya. Gue TOLOL, GOBLOK, dan GAK PERNAH NGAMBIL PELAJARAN DARI KESALAHAN SEBELUMNYA. Gue cuma sampah di rumah ini. Jujur aja, gue BOSEN abis kalo idup kayak gini. Sekarang ini gue harus ngerasain suasana yang dulu gue sangat benci di rumah ini. Sorry guys, gue lagi kebawa perasaan nih. Kalo sampe ni buku terbit, mungkin gue di cincang abis sama bokap nyokap gue. Tapi gak papa lah.. toh, cita-cita gue dari dulu pengen punya buku. Oke, gue mau ceritain apa yang gue lakuin aja hari ini. Sabtu pagi, setelah kemarin ngambil rapot dan bokap nyokap sedikit bangga sama hasil rapot gue yang dapet peringkat 7, gue janjian sama Mayda buat nemenin gue service jam. Gue telfon Mayda, dan Mayda menerima ajakan gue. Gue jemput Mayda ke rumahnya yang emang rumahnya deket rumah gue. Berangkatlah gue ke tukang service jam. Selesai service jam, gue jajan makanan dulu dan nantinya gue sama Mayda bakal makan bareng di rumah gue. Memang, sekarang udah liburan semester, jadinya kegiatan gak penting pun kami lakuin.

Gue sama Mayda lagi di kamar gue. Hoam, gue ngantuk abis. Setelah makan, gue ngegeletak di atas tempat tidur, dan Mayda di bawah lantai lagi baca karangan gue. Guys, gue tidur 4 jam dan Mayda masih aja baca karangan gue yang panjang itu. Gue kaget ketika bangun ternyata ada Mayda di kamar gue. Dan gue baru sadar kalau gue emang habis sama Mayda tadi. Mayda cuma senyum kecil. Dia ketawa ngeliat muka bangun tidur gue. Dia bilang kalo dia sempet kebingungan karena gue tinggalin dia tidur di rumah gue sendiri. Saat itu papa sama mama lagi kerja! Gak tau kemana! Kak Levita juga lagi ada jam kuliahnya. Jadi di rumah cuma ada gue, pembantu gue, adek gue, dan Mayda. Jadi kami sedikit lebih leluasa.
Pas bangun tidur, gue nyalain computer, ngecek Gerald online apa kaga. Ternyata nggak. Dan akhirnya gue kembali tiduran di kamar.
Hari udah mulai sore, hari ini gue sama Mayda cuma tiduran aja di kamar gue. Kak Levita juga belom pulang. Tumbenan aja dia full sama jam kuliahnya, biasanya dia kan kabur pulang. Mama Papa juga gak ada kabar, Kanya main ke rumah temennya yang ada di seberang. Akhirnya gue sama Mayda memutuskan untuk menghampiri Sally ke rumahnya. Ya. Jumat kemarin kami hendak di nasihati Bu Laluna untuk membimbing Sally karena rangkingnya yang jauh dari kami. Ia mendapat peringkat 31 terpuruk paling bawah, gue aja sempet kaget abis karena Gerald yang masuk 10 besar terendah. Pengambilan raport kemaren membuat Gerald membisu. Ia mungkin sangat kecewa dengan hasil rapotnya. Ia pun kaget dengan Rangking yang terpuruk merosot jauh kebawah, bayangkan saja, dia yang selalu mendapat peringkat 10 besar kini mendapat posisi yang menyakitkan hati, rangking 22. Aku bisa tahu persis apa yang di rasakan Gerald saat itu. Sesaat, gue merasa bersalah karena gue yang telah membantu Gerald mengukir nilainya yang kurang memuaskan itu. Mungkin karena semenjak sama gue dia jadi merosot jatuh kebawah. Ah, gue ini. Kenapa cuma gue yang merayap naik ke atas. Kenapa Gerald yang gue dorong jatoh ke bawah, gue ngerasa bersalah abis.
Pembagian rapot kemaren, gue sama Gerald bertugas untuk menjaga meja absen wali murid. Karena Mama dan Mama Gerald bertugas menjadi kordinator kelas, gue juga berkewajiban untuk menagih pembayaran listrik yang baru tahun kemarin sekolah gue memakai fasilitas AC. Kali ini, Mama gak bias datang ngambil rapot gue, jadinya Papa. Papa datang telat hari itu, gue sempet deg-deg an karena gak ada yang ngambil rapot gue.
Beberapa menit setelah acara di mulai, baru lah Papa datang. Ah, padahal tadi nama gue di sebut karena gue masuk 10 besar. Yaelah Papa nih. Tapi gak papa lah, Papa absen di meja yang Gerald jaga. Raut Papa dan raut Gerald biasa aja. Lalu papa duduk. Gue kembali duduk di meja absen, samping Gerald. Tidak lama kemudian, Papa manggil gue. Beliau ngucapin selamat sama gue karena gue Rangking 7. Tertera di papan tulis nama gue. Akhirnya gue duduk di samping Papa ngobrol-ngobrol. Gak lama Papa dateng, sebelumnya kakaknya Mayda dateng. Mayda duduk bareng sama gue dan Papa. Cukup perbincangan yang mengasyikkan. Ya, gue dan Mayda emang udah akrab banget. Mayda udah gak punya orang tua. Huhfft gue paling males kalo harus ngebahas tentang latar sahabat gue yang satu ini. Konon, Mama sama Papa Mayda meninggal karena sakit. Soulmate banget yah Mama Papa Mayda. Mereka sehidup semati. Sekarang akhirnya Mayda harus tinggal dengan ketiga kakaknya. Oke kita next aja deh, gue takut kalo ni buku beneran terbit tar gue di tuduh udah ngumbar-ngumbar latar belakangnya orang lagi. Tapi ya ga papa lah. Cita-cita gue dari dulu kan pengen banget karya gue di publish. Wkwk
Sampe akhirnya, Papa nanya sama gue.
“inisial GH Gerald bukan?” katanya sambil tetap menatap papan tulis yang bertuliskan sepuluh nama peringkat terendah.
Gue cuma ngangguk.
“Gerald yang mana Mon? yang duduk di situ?” papa menunjuk Gerald yang sedang duduk di meja absen.
“iya pa.” kata gue sedikit gugup.
“kok? Dapet sepuluh terendah. Kalo cari cowok yang lebih pinter dari kamu dong.” Nada suara Papa mulai tidak enak di dengar, “masa iya sepuluh terendah. Nih, syarat untuk jadi mantu Papa, ga Goblok, ga Jorok, ga Ngerokok, ga Mabok.”
Gue terdiam seketika.
“aaaah payah kamu nih.” Papa kembali meledek gue. Lalu Papa beranjak untuk mengambil giliran. Gue kembali duduk di samping Gerald. Gerald lagi baca buku diary yang gue tulis kemaren malem. Kami berdua memiliki diary khusus. Yang di situ tertulis isi hati gue dan isi hati Gerald. Malam tadi memang gue sudah memiliki feeling tidak enak sehingga gue menulis diary yang memiliki sifat akan membuat Gerald termenung. Gue yakin, pikirannya bertambah setelah baca diary yang gue tulis. Huhft rasanya gue mau minta maaf sama Gerald. Belom lagi teguran dari Papa yang barusan gue denger.

Gue sama Mayda ke rumah Sally. Ketika ingin berangkat, kebetulan saja Papa pulang. Akhirnya gue sama Mayda naik motor. Sally tidak terlalu keberatan untuk kami datangi. Papa memberi izin kami hingga maghrib dan gue mengiyakan. Setelah capeknya gue sama Mayda nyari rumah Sally, gue duduk kelelahan di ruang tamu Sally sekarang. Papanya mengenal gue, karena nama gue yang terpajang di papan tulis kemarin. Langsung aja gue sama Mayda ngejelasin ke Papanya maksud dan tujuan kita dateng ke rumah Sally. Papanya menerima baik kedatangan gue dan Mayda. Banyak harapan yang terlontar agar Sally bisa lebih baik lagi. Sally hidup di antara keluarga yang kaya. Mama dan Papa Sally sudah bercerai. Kini Sally tinggal bersama Papa dan adiknya seorang. Sally memiliki keterpurukan nilai karena keadaan keluarganya yang tidak harmonis. Sehingga gue dan Mayda bertugas sebagai teman yang lumayan dekat untuk memperbaikinya.
Perbincangan kami dan Papa Sally sangat lama sehingga tidak terasa maghrib sudah berlalu. Gue teringat akan janji gue sama Papa. Namun, Papa Sally terus memberi masukkan dan harapannya sebagai orangtua Sally untuk membimbing anaknya. Sally sangat keras kepala. Dan ia tidak ada keinginan sama sekali untuk memperbaiki nilainya. Agaknya gue sama Mayda bakalan sedikit kesusahan sama tugas yang di kasih Bu Laluna ini. Selain Sally, kita juga di beri tugas untuk memperbaiki nilai Gerald. Baiklah, urusan Gerald besok aja. Sekarang ini Mama udah nelfon berkali-kali lewat hape Mayda, tapi Papa Sally terus berbicara, gue kelimpungan. Akhirnya gue izin keluar ruangan dan menerima telfon dari mama.
“Halo Ma?”
“kamu dimana Mon?”
“di rumah Sally, Ma.. sebentar lagi ya Ma. Papanya Sally lagi ngomong.”
“kamu janji sama Papa sampe maghrib kan?”
“iya, Ma.. tapi sebentar lagi ya Ma, ya?”
“pulang sekarang.”
Suara Mama mengerikan. Lalu telfon terputus.
Gue kembali duduk dan akhirnya kami berhasil pamit pulang. Sesampainya di rumah, gue buru-buru masuk takut banget sama muka Mama Papa yang bakal serem nanti.
“assalamualaikum….” Gue segera masuk.
Tidak ada yang menjawab. Gue segera cari Mama. Namun Papa sudah menjegat di ruang keluarga.
“Monda, Monda, sini!” papa sudah siap di depan komputer.
“iya Pa?” gue ketakutan abis.
“udah Papa bilang berkali-kali, jangan murahan!” papa langsung ngatain gue murahan. Ajegile, sakit banget ni hati.
“apa sih Pa?” gue masih bingung.
“status kamu tuh murahan semua! Terlalu vulgar.”
Mata gue terbelalak. “status yang mana?”
“remove Gerald, atau kamu tutup facebook kamu?!”
“hah? Remove? Ya ga mungkin lah pa! kalo waktu itu Rifky kan gak satu sekolah, kalo Gerald? Satu kelas lagi. Papa kenapa sih?” gue langsung sewot.
“TUTUP ATAU REMOVE?!!!!” Papa ngebentak.
“Mamaaaaaaa,” gue nangis nyamperin Mama.
Mama hanya terdiam gak ngebelain gue. Gue pun bingung, maunya ini keluarga apa siiiiiiiiiiiiiiiiiiiih?!!!!!!!
Gue nangis. Gue sempet mikir status yang mana yang di maksud Papa? Oh ya, gue inget. “bisa kali kalo lo gak ngangenin -__________-“ yaya status yang itu. Alaaaah emang gue yang salah! Tapi gak usah ngeremove Gerald bisa kaliiiii!!!!!
“Mamaaaaaaaaa Monda gak mau kalo suruh removeeee!!!! Ma, Mamaaaaaaaaaaaaaaa!!” gue samperin Mama yang lagi tiduran di kamar depan.
“yaudahlah, turutin aja kata Papa. Lagi kamu juga terlalu murahan. Kamu tuh cewek Mon, gak bisa apa kalo kamu gak vulgar?!” Mama ikutan ngomelin gue gak karuan. Arggh!!! Ni rumah, rumah apaan siih?!?! Kayak neraka ajaa!!!!
Gue nangis ngejer.
“MONDA! Log in facebook kamu! Remove Gerald!! Cepetan sini!” Papa tereak kenceng yang bikin gue pengen mati aja saat itu. Sial! Gue harus ngerasain kejadian yang memuakkan lagi! Kenapa sih orang tua gue? Maunya apa?! Gue enek! Aaargh, kalo mati aja enak kali!
“GAK MAU PAPAAAAAAAAAA!!!!!” gue ikutan tereak.
“YAUDAH TUTUP FACEBOOK KAMU!” papa gak mau kalah.
“YAUDAH!!” gue adu tereak-terakkan sama Papa.
Tapi tetep aja gue di paksa biar log in facebook gue.

Suasana mulai mereda. Jadi lah gue ngeremove Gerald, cowok gue sendiri. Bahkan di block sama papa yang nyebelin itu! Gue lemes, nyamperin Mama yang masih tidur di kamar depan.
“Ma, kenapa lebay sih Ma? Monda gak tahan Ma! Mama, Mama ngertiin Monda dong Ma!!!” bathin gue gak tahan.
“Mon, kamu itu udah Mama tegur make cara lembut, kasar, bercanda, tetep aja kamu lakuin itu. Aturan Mama yang nanya, mau kamu apa sih Mon?” Mama nyalahin gue lagi!
“tegur apa sih Ma?!!”
“kamu murahan Mon! sumpah kamu murahan! Kesannya tuh kamu yang ngejar Gerald! Kamu tuh cewek. Kalo misalnya kamu gak buat status itu, gak bakal kayak gini kejadiannya!”
Gue tertunduk dalam. Gue berfikir dan menyesal yang teramat. Daaaaaan akhirnya, gue harus membuat derajat orang yang gue sayang lagi rendah di mata orang tua gue. Gue tuh emang troublemaker yang gak tau diri! Gue emang MURAHAN. Gue itu terlalu AGRESIF dan kata ORANGTUA GUE, GUE ITU GAK ADA HARGANYA. Oke! Gue terima semuanya dengan lapang dada! TERIMA KASIH MAMA PAPA KU TERCINTA… DAN AKHIRNYA GUE HARUS DOWN DAN KEPERCAYAAN DIRI GUE MELUNTUR BERSIH.. SEKALI LAGI TERIMA KASIH MAMA PAPA.. DAN TERIMA KASIH JUGA BUAT PAPA YANG UDAH BANTU AKU MENJADI “TOLOL” GUE EMANG TOLOL!!!
Gue nangis ngejer di kamar gue. Papa pergi gak tau kemana, dan Mama nyamperin gue yang tergeletak di atas kasur.
“sayang, nonton ovj aja yuk temenin Mama..” Mama ngelus kepala gue.
“ngga, Monda mau tidur! Monda kan murahan Ma! Mama gak usah deket Monda!” gue sewot.
“eh eh sayaang.. sebenernya Papa sayang loh sama kamu. Papa sedih ngeliat kamu sedih. Papa nyesel nak.. tapi gimana lagi. Kamunya juga salah.”
“makasih ya Mama Papa yang udah buat aku down! Aku emang murahan dan bego Ma! Dan kata Papa aku juga TOLOL!” aku kembali menangis.
“nak, Papa itu sayang banget sama kamu, bukan berarti Mama sama Papa gak ngizinin kamu untuk bersenang-senang. Cuma cara kamunya aja yang salah. Coba aja kalo kamu gak vulgar kayak gitu. Pasti mama sama papa gak bakal marahin kamu kayak gini kok. Papa tuh sayang loh nak sama kamu..” Mama meluk gue. Gue terdiam membisu.
“jadi Ma, kalo Monda gak buat status kayak gitu, pasti Papa gak bakal marah ya Ma sama Monda?” gue mulai tersadar.
“iya lah.. Papa tuh gak salahin Gerald, Mon.. Papa salahin kamu yang terlalu over.. itu gak baik loh Mon.. kamu kan wanita..”
Gue terdiam lagi.
Kali ini, gue bener-bener ngambil pelajaran. Lain kali, bisa kan kalo gue gak terlalu vulgar…? Hmmmm
Gerald lagi apa ya sekarang? Dia udah tau belom ya kalo gue block facebook dia,..? bener-bener kejadiannya sama kayak waktu gue sama Rifky. Huhft.. Gerald.. maafin aku yah.. kamu harus keseret dalam permainan gue. Kamu juga harus merasakan pedihnya di pojokkin sama keluarga gue.. yayaya. Apa Gerald akan bertahan? Atau dia ninggalin gue sama kayak Rifky..?? hmm gue deg-degan. Semoga aja dia ngerti. Maafin aku ya Ge… aku sayang kamu.. ):
^-^
Hari ini gue lagi ngegalau. Minggu yang menyakitkan buat gue. Gue cuma bisa bengong kayak orang tolol. Mama sama Papa kerja pagi. Gak tau lah, gue gak mikirin. Gue gak mood banget. Gue di kamar bengooong aja, rencananya sih gue sama Mayda hari ini mau ngadain belajar kelompok sama Sally, Sama Gerald juga. Tapi gak tau deh kalo keadaan hati gue kayak gini. Sialan ah! Gue mau mati aja sekarang ini. Grrr cuma karena status sialan semuanya berantakkan! Kira-kira Gerald gimana ya perasaannya sekarang? Anjrit gue galau beneran nih -,-
Karena rumah sepi, dengan uang yang pas-pasan cuma 20.000 perak, gue memutuskan untuk jalan sendiri gak tau kemana. Rasanya gue pengen banget nyamperin Gerald. Telfon rumah Gerald ga berfungsi, setiap kali gue nelp dia lewat telp rumah, selaaaaalu di bilang tidur sama yang ngangkat.. gak kenal emergency banget tuh yang angkat -___- jahat zz dan satu lagi! Saat ini Gerald ga lagi megang hape.. biasalah.. anak jaman sekarang mah kalo ga ngilangin hape ga keren. Mayda pagi ini ada acara sampe jam dua belasan. Mungkin kita bakal belajar kelompoknya jam satuan lah. Akhirnya gue ngegalau sendiri ke jembatan texas yang ada di fakultas teknik Universitas Indonesia. Deket lah sama rumah gue. Gini-gini gue takut juga kalo pergi-pergi jauh sendiri. Gue ngegalau men, sekarang gue udah ada di jembatan texas. Gue ngeliat sekeliling. Banyak yeh orang pacaran.. azz jadi inget waktu lari pagi sama Mayda. Yaelah Mayda make ada acara segala lagi -__-
Saat ini, gue pengen banget nyamperin Gerald! Ah, gue mau minta maaf banget sama Gerald! Karena gue udah ngebuat dia buruk banget di mata Mama Papa! Padahal ga seburuk yang Mama Papa kira! Gue janji gue bakal buat Gerald kembali bagus di mata Mama Papa! Semua ini karena gue yang goblok! Aaah Tuhaaan.. maafkan akuu…!!
Gue bingung harus ngapain, akhirnya gue mutusin untuk pulang aja. Takut-takut Mama sama Papa tiba-tiba pulang dan mereka tau gue ga ada di rumah, habislah gue tanpa sisa..! memang saat ini gue sangat negative thinking tentang Mama Papa.
Jam satu teng, Mayda sms gue. Dia ngajakin belajar kelompok di rumah Sally.. gue ga niat banget.. enek dah kalo denger kata belajar. Alhasil, otak gue jalan.. gue dapet ide cemerlang untuk melepas semua beban gue. Gue bales lah sms Mayda.
“Mayda cantiks.. kita ke rumah Gerald aja yuk.. gue pengen banget ngomong sama dia-,- sehabis itu kita ke rumah Sally deh..”
Karena gue tau banget apa yang bakal Mayda jawab, dengan pede nya gue ganti baju. Selesai ganti baju, gue liat hape gue lagi,
“oke.. lo ke rumah gue aja yah.. gue capek nih”
Thanks God..!
gue langsung tancep gas ke rumah Mayda, di sana terdapat Mayda yang sedang terkapar di dalam kamar, tu anak kecapean banget kali ya-,- tapi demi membantu gue, dia rela bangun dan nemenin gue setelah gue cerita apa yang terjadi. Gue nangis sesegukkan, gue lemes, mata gue bengkak. Dengan hati yang bimbang, dan takut kalo Gerald ga ada di rumah, gue sama Mayda melangkahkan kaki ke rumah Gerald.
Di rumah Gerald, gue jantungan. Sebelumnya gue nyampein wasiat sama Mayda. “May, gue ga berani manggilnya.. tar lo aja ya yang manggil. Yaya?”
Mayda jawab sedikit ragu, “oke”
Ga tau kenapa, pokoknya hari ini gue makasih banget sama Mayda yang udah bantu gue banyak.
Dipanggilnya Gerald oleh Mayda.
“Assalamualaikum.. Gerald..” Mayda memberanikan diri.
Dirumah yang segede itu, belom ada jawaban sama sekali. Panggilan kedua terucap lagi dari bibir Mayda.
“Assalamualaikum.. Gerald..” kali ini panggilan tersebut berfungsi. Keluarlah pembantu rumah tangga Gerald.
“iya? Cari siapa ya?” jawabnya.
“cari Geraldnya ada mbak? Mau ngomong sebentar” Mayda tetap memancarkan senyumnya walau gue tau sebenernya dia capek banget.
Pembantunya ngeliat gue sebentar yang emang sebelumnya dia tau kalo gue pacarnya Gerald.
Waktu itu emang masih awal-awal liburan, jadinya rumah Gerald di penuhi motor-motor yang gue rasa kakaknya lagi pada ngumpul. Jantung gue deg-deg an saat itu. Karena pertama kalinya gue nyamperin cowok. Semoga aja orang yang ada di dalamnya memaklumi kedatangan gue karena punya urusan laen. Gerald nongol dari dalem rumah. Jantung gue masih copot-copot. Sempet salting gitu gue saat itu. Tapi ga ada respon dari orang dalam rumah.
“hey!” Gerald buka pintu pager. Gue ngeluarin senyum gue walau dengan mata yang bengkak.
“Rald, gue sama Monda mau ngomong.. penting banget nih.. kalo di foodcourt gitu gimana? Kalo di sini gak enak.. ada kakak lo ya pada ngumpul?” Mayda to the point.
“oh gitu.. hmm yaudah” Gerald kebingungan.
“bisa gak?” Mayda memastikan.
“iya bisa, gue masuk dulu ya ganti baju sama izin ke mamah” Gerald terburu-buru. Gue langsung jalan ke depan di tempat turun angkot.
^-^
“jadi gini Ge.. hmm Mon? lo ga ngomong? Apa gue aja?” Mayda menatap gue.
“iya, lo aja.” Gue tertunduk.
“hmm kemaren itu, pas pembagian rapot, papa Monda kaget karena lo ga salim sama dia.. selain itu, papa juga kaget karena lo terpuruk 10 besar terendah..” Mayda langsung pada topik pembicaraan.
Gerald tertunduk.
“maksudnya? Fb Monda ilang beneran karena gue di block?” Gerald shock.
Gue bagai patung yang hanya terdiam. Mulut gue lupa gue charge. Jadinya irit banget gue ngomong.
“Mon? kamu block aku? Apa remove?” Gerald langsung nanya ke gue.
“iyeh, dua-duanya Ge..” gue ga berani mandang dia.
“hah? Kenapa?” Gerald butuh penjelasan.
“ya karena itu, terus karena status-status aku yang terlalu vulgar..”
“apa hubungannya sama status kamu..?”
“ya kata mama papa, aku itu kesannya kaya cewek murahan dan aku kayak yang ngejar-ngejar kamu” gue lemees.
Gerald terdiam.
“kemaren juga, papa pengen di salimin kamu, tapi ya gitu.. kamu ga ada respon.”
“aku kira papa ga tau kalo kita pacaran..” Gerald berusaha menjelaskan.
“kan udah aku bilang, semuanya tuh udah tau Ge.. lagoan kan seenggaknya walaupun kamu bukan cowok aku ya salim juga dong-,- apalagi waktu pembagian rapot kemaren kamu ada di samping aku” gue sedikit gondok. Gerald terdiam.
Perbincangan kita bertiga terus berlangsung. Sampe akhirnya gue sama Gerald sepakat untuk saling pengertian.

Dan lo tau..? kedatangan gue ke rumah Gerald adalah awal masalah besar yang akan datang. Yang jelas, masalah kali ini udah bebas dan ga ada lagi beban untuk gue. Gue makasih banget sama Mayda :]
^-^
Liburan semester usai. Gue kangen berat sama Gerald. Alhasil, gue bangun pagi dan siap-siap dengan semangatnya untuk segera masuk sekolah.
Oke, gue skip aja ya ceritanya.. gue rasa terlalu basa-basi.

Seminggu berlalu, gue masih belom sadar kalo ini semester terakhir gue jadi anak SMP. Gue masih kebawa sama suasana liburan yang kemaren baru gue rasain. Hingga akhirnya, datang lah undangan rapat koordinator kelas dari Bu Laluna untuk Mama dan untuk Mama Gerald.

Sabtu siang setelah gue pulang Pendalaman Materi, Mama dateng, dan gue pulang. Hari itu juga terdapat Mama Gerald yang udah standby berdua ngobrol sama Bu Laluna. Gue gak tau kelanjutan ceritanya karena gue udah ada feeling gak enak sama apa yang akan terjadi.
Sepulangnya Mama dari sekolah gue, Mama langsung ngajak gue ngobrol.
“Mon, kamu tau gak? Tadi Mama ngobrol panjang banget sama Mama Gerald dan Bu Laluna.”
Kontan jantung gue pecah dan mata gue serasa pengen keluar. “ngomong apaan aja Ma?”
“marah-marah Mon.. awalnya itu, Mama, Mama Gerald, sama Bu Laluna lagi ngobrol biasa.. terus pak Sanusi nyamber dan langsung bilang ‘ini nih bu, si Gerald suka di ajak berduaan mulu sama Monda’ Mama Gerald langsung meledak tuh pas pak Sanusi bilang itu. Pak Sanusi.. kamu tau kan? Katanya guru Matematika kamu?” Mama ngomong panjang lebar yang buat jantung gue ngga tau ilang kemana.
“apaan? Pak Sanusi bilang gitu? Astaghfirullah…”sekejab hati gue membara. Anjer gue ga terima banget di bilang gitu. Oh My God.. EMANG GUE CEWEK APAAN? REMPONG DEH.
“iya, masa Mama boong. Ya begitu deh.. Gerald itu keluarga kaya ya? Mama rasa Mama Gerald gengsian deh.. nih yaa.. mama tuh udah berusaha bagus-bagusin Gerald di depan Mamanya.. tapi gak ada sama sekali pujian buat kamu. Semuaanyaa jelek. Tuh kan udah Mama bilang, Mon.. kamu itu terlalu agresif..” gue ngedown. Saat itu gue masih santai karena gue udah sangat biasa di kritik abis-abisan sama emak-emak. “terus bilang apa lagi Ma?”
“katanya kamu itu pernah nyamperin ke rumahnya ya? Wah Mama Gerald ga suka banget di bagian itu.. Mama Gerald nyerocooos aja tuh, Mama mau pulang di jegat dulu Mon.. Mama aja bingung.. terus kamu suka sms papanya ya?”
Gue terdiam.. mampusnyaaa gue saat ini. “ iya Ma, dua-duanya bener.. tapi itu selalu ada maksud dan tujuan yang jelas, nih yaaa waktu Monda ke rumah Gerald tuh ada urusan penting, dan kalo Monda telfon rumahnya selalu di bilang tidur. Gak tau emergency atau penting sedikit pun.. alhasil, Monda samperin Gerald aja langsung ke rumahnya.. waktu itu sih Monda gak tau kalo Mamanya lagi ada di rumah.. ahbisnya Monda ga di respon sama sekali sama penghuni dalem rumah. Nah kalo sms papanya, juga dengan maksud yang jelas.. emang sih pernah Monda sms Gerald karena bete, tapi papanya respon baik kok Ma..” gue menjelaskan sebisa mungkin.
“hm kamu salah Mon.. jangan gitu banget lah.. di tahan gitu.. Mama Gerald gak suka banget loh Mon, sama kamu.. dia ngejelek-jelekin kamu banget.”
“terus Mama gimana? Ma, maafin aku ya udah buat Mama malu karena Mama Gerald ngomong panjang gitu.”
“yaudah lah.. kamu jaga jarak yah sama Gerald.. udah, mending kamu fokus UN aja deh..”
Gue langsung ngedown tingkat dewa. Ya Allah.. segitunya ya Mama Gerald benci ama gue? Kenapa gue apes bangeet? Kenapa gak Mama Gerald liat guenya pas gue lagi baik-baik aja-____- sedih bangeeeet idup guee.. dan lo tau gimana lanjutannya? Gue ngerasa sangat terpojok di keluarga Gerald. Gak hanya Mama Gerald yang benci sama gue. Salah satu kakaknya ada yang gak suka sama gue. Entahlah salah satu apa salah banyak err -___-

kesedihan yang merayapi, gue putus asa -__-

sekarang gue udah punya kehidupan baru, gue udah punya banyak kisah baru, gue juga udah punya apa yang gue inginkan dari dulu.. tapi mengapa selalu aja kesenangan gue hanya sebentar? apa gue ga layak nerima kebahagiaan gue dengan waktu yang lama? menurut gue semua ini gak adil, dan masalah yang gue hadapi sekarang juga sangat ga adil. gue mungkin egois, tapi gue butuh keadilan.. oke, gue terima semua ini. thanks God.. di hari ulang tahun gue kemaren, gue di tamui banyak masalah. gue makasih banget buat semua manusia yang terlibat dalam masalah gue ini. oke, thanks. gue cukup tau

Sabtu, 06 Maret 2010

Diary depresiku :(


Malam ini hujan turun lagi
Bersama kenangan yang ungkit luka di hati
Luka yang harusnya dapat terobati
Yng ku harap tiada pernah terjadi

Ku ingat saat Ayah pergi, dan kami mulai kelaparan
Hal yang biasa buat aku, hidup di jalanan
Disaat ku belum mengerti, arti sebuah perceraian
Yang hancurkan semua hal indah, yang dulu pernah aku miliki

Wajar bila saat ini, ku iri pada kalian
Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah
Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang kelam
Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan

Mungkin sejenak dapat aku lupakan
Dengan minuman keras yang saat ini ku genggam
Atau menggoreskan kaca di lenganku
Apapun kan ku lakukan, ku ingin lupakan

Namun bila ku mulai sadar, dari sisa mabuk semalam
Perihnya luka ini semakin dalam ku rasakan
Disaat ku telah mengerti, betapa indah dicintai
Hal yang tak pernah ku dapatkan, sejak aku hidup di jalanan

Wajar bila saat ini, ku iri pada kalian
Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah
Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang kelam
Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan

huuuft -__-


thats right.... im just a little girl ! but, I am also entitled to respect and understand... please do not set my life again...

Jumat, 05 Maret 2010

hhmm,,, aku pengen bgt buat dia senyum... kapan yaaaa?

jealous ...

thats right.... gue ngaku kali ini gue jealous berat sama dia, dan dia .... oh no... all friends... maaf kalo akhir'' ini banyak yg jadi korban sakit hati karena tingkahku... i'm so sorry... ku harap kalian mengerti.. :'(